Dari Gurauan Menjadi Cahaya
Sore itu, di sebuah dusun kecil, remaja masjid Langgar At-Taqwa berkumpul di rumah Buk Nely untuk memilih ketua baru. Sandi, yang sedang sibuk di kebun mengambil pinang, sama sekali tidak tahu namanya telah dicalonkan oleh teman-temannya—Asrijal, Asyraf, Hafiq, dan Lisda. Awalnya hanya gurauan, sebuah lelucon yang mereka pikir tidak akan berujung serius. Namun, ketika Asrijal maju ke depan dan menyampaikan visi misi yang katanya berasal dari Sandi, semua orang terkesima. Tepuk tangan bergemuruh, dan tanpa diduga, Sandi resmi terpilih menjadi ketua remaja masjid.
Teman-temannya panik. Lisda ketakutan, Asyraf menyalahkan Asrijal, sementara Hafiq mencoba menenangkan dengan kalimat bijak: “Apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai.” Akhirnya mereka memberanikan diri untuk jujur kepada Sandi. Sandi sempat marah, meninggalkan mereka dengan wajah kecewa. Namun setelah merenung, ia kembali dengan keteguhan hati: “Sebenarnya aku memang berminat menjadi ketua, tapi bukan seperti ini caranya. Ya sudah, yang penting sekarang kita sudah jadi satu tim. Ayoo… kita wujudkan Ramadhan Ceria.”
Hari-hari Ramadhan pun tiba. Sandi membentuk kepanitiaan, membagi tugas kepada teman-temannya, dan membuat grup WhatsApp untuk memudahkan koordinasi. Meski persiapan singkat dan seadanya, acara Ramadhan Ceria berjalan lancar. Tiga madrasah ikut serta, masyarakat mendukung, bahkan donatur berdatangan hingga anggaran melampaui kebutuhan. Dana berlebih digunakan untuk menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa. Ramadhan Ceria bukan hanya sebuah kegiatan, melainkan cahaya kebersamaan yang menyatukan dusun.
Yang lebih mengejutkan, program yang lahir dari gurauan itu terus berlanjut setiap tahun, diwariskan dari satu kepemimpinan ke kepemimpinan berikutnya. Grup WhatsApp yang dulu dibuat Sandi pun tidak pernah sepi. Walau kepanitiaan resmi dibubarkan, tidak ada satu pun anggota yang keluar. Grup itu tetap hidup, penuh obrolan, candaan, dan diskusi. Kini, grup Ramadhan Ceria menjadi media silaturahmi, tempat berbagi informasi, dan wadah untuk merencanakan kegiatan sosial lainnya.
Dari sebuah gurauan yang melampaui batas, lahirlah tanggung jawab. Dari keterpaksaan, tumbuh keikhlasan. Dari kebersamaan, lahir tradisi yang bertahan. Sandi dan teman-temannya belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang ambisi pribadi, melainkan tentang keberanian menanggung amanah dan mewujudkan kebaikan bersama.
Ramadhan Ceria adalah bukti bahwa cahaya bisa lahir dari hal yang tak terduga—bahkan dari sebuah gurauan.
.jpg)
0 Komentar