CATATAN SEORANG PASKIBRA


Catatan Seorang Paskibra
(Cerpen Inspiratif)

Kring… kring… kring… bel sekolah berbunyi. Aku, Rebi, dan Said bergegas masuk ke kelas agar tidak terlambat. Guru sejarah yang terkenal killer sudah datang, untung kami lebih dulu tiba. Semua siswa diam, fokus mendengarkan penjelasan.

Tiba-tiba pintu diketuk. “Assalamualaikum, permisi buk!” Rahmat, teman sebangkuku, masuk dengan wajah bersalah. Ia dihukum hormat bendera di lapangan. Kami hanya bisa menonton, tak berani tertawa.

Tak lama, bel berbunyi empat kali. Semua siswa diminta berkumpul di aula. Aku memanggil Rahmat untuk bergabung. “Kenapa terlambat lagi?” tanyaku. Ia menjawab malu, “Tadi malam main game sampai subuh, alarm nggak kedengar.”

Aku, Kevin teman-teman memanggilku Vin bersama Rebi, Said, dan Rahmat selalu kompak. Rebi jago agama, Said pintar akademik, Rahmat hebat olahraga. Sedangkan aku? Hanya tubuh besar dan tinggi, belum tahu kelebihanku.

Di aula, lima orang berseragam merah putih bertuliskan PASKIBRA memperkenalkan diri. Mereka memanggil ketua kelas, termasuk Rebi. Tak lama, namaku disebut. Aku pasrah, postur tubuhku memang paling mencolok. “Apakah kalian siap ikut seleksi paskibra kabupaten?” tanya salah satu kakak. Kami menjawab serentak: “Siap!”

Latihan dimulai. Tujuh hari penuh kami digembleng. Aku yang paling tinggi jadi sorotan. Dukungan sahabat membuatku kuat. Seleksi di kantor Bupati berlangsung tegang, hanya lima orang terpilih. Namaku termasuk di antaranya.

Beberapa hari kemudian, seleksi tingkat provinsi digelar. Tiga hari pembekalan, lalu kami berangkat ke kantor Gubernur. Jantungku berdegup saat pengumuman. Awalnya namaku tak terlihat, tapi di baris terakhir, aku menemukannya. Aku lolos. Air mata haru menetes, aku segera memberi kabar pada orang tua dan sahabat.

Empat belas hari pembinaan di asrama terasa berat. Latihan keras, disiplin tinggi, dan rasa gugup tak bisa dihindari. Namun akhirnya, aku dipercaya menjadi komandan paskibra provinsi. Detik-detik proklamasi tiba. Di hadapan Gubernur dan masyarakat, dengan langkah tegap dan suara lantang, aku memimpin pengibaran Sang Merah Putih.

Bendera berkibar sempurna. Sorak sorai menggema. Saat itu aku sadar: tubuh besar dan tinggi bukan sekadar fisik, melainkan anugerah yang mengantarkanku menemukan jati diri. Aku bukan lagi siswa yang iri pada sahabatnya. Aku adalah paskibra, pembawa kehormatan sekolah, kabupaten, bahkan provinsi.

Posting Komentar

0 Komentar