DIBALIK TANGISAN AWAL BULAN AGUSTUS
Adzan Dzuhur berkumandang, suara merdu dari handphone seorang teman mengingatkan kami untuk segera sholat berjamaah. Usai sholat, panggilan telepon dari Yuliana datang membawa kabar penting: pengumuman KKN telah keluar. Dengan semangat ia berkata, “Kita satu posko, jumlahnya 15 orang, dosen pembimbing lapangan Bapak Salman Al Farizi, M.Pd. Lokasinya di Desa Tanjung Aur, Tebo Ulu.”
Aku, Syahrul Marda, mahasiswa semester 6 jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam, lahir di Desa Lambur, Jambi. Mendapat lokasi KKN di Tebo adalah kebahagiaan tersendiri. Aku tahu, adat, tradisi, dan karakter masyarakatnya berbeda dengan kampung halamanku yang dekat laut. Inilah kesempatan untuk belajar memahami orang baru, budaya baru, dan kehidupan desa yang jauh dari riuh kota.
Hari Keberangkatan
Bus berjejer di kampus UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, mahasiswa beralmamater biru sibuk dengan barang, foto, dan keluarga. Suara panitia memanggil kami masuk ke bus nomor 7. Klakson berbunyi, tanda perjalanan dimulai. Senang bercampur haru, kami tahu 40 hari ke depan akan menjadi kisah yang tak terlupakan.
Perjalanan 8 jam membawa kami ke Desa Tanjung Aur. Malam itu kami disambut hangat oleh Kepala Desa, Bapak Ahyar, dan keluarganya. Makan malam bersama menjadi awal perkenalan. Posko kami adalah rumah Datuk dan Nyai, orangtua Kepala Desa. Malam pertama penuh canggung, tapi juga penuh harapan.
Hari-Hari Awal
Pagi cerah, suara burung dan aktivitas masyarakat desa mengingatkanku pada kampung halaman. Kami berkunjung ke kantor desa, perangkat desa, dan tokoh agama. Program kerja mulai dipaparkan: pemberian bibit unggul dari Kementerian Lingkungan Hidup, silaturahmi, dan penyesuaian diri. Malamnya, evaluasi dilakukan, jadwal piket ditetapkan. Hidup di posko berarti belajar mandiri: makanan seadanya, tidur sederhana, jauh dari orang tua.
Dinamika 20 Hari
Pemahaman individu selama 20 hari bersama cukup bagiku untuk meng-assessment karakter teman-teman posko. Ada yang introvert, ada yang terbuka. Suatu ketika seorang teman bercerita dengan nada pelan, “Tadi aku habis nangis di kamar, dak kuat lagi nahannya. Kadang kawan kalau ngomong dak mikir perasaan orang. Pengen cepat pulang, apalagi tadi orangtua nelpon nanya kabar jadi tambah rindu.”
Ilmu konseling yang kupelajari di kampus benar-benar terpakai. Aku mencoba menjadi pendengar yang baik, memberi simpati, dan membingkai pendekatan dengan asas konseling. Perlahan, teman-teman mulai membuka diri, bercerita tentang keluarga, kampus, hingga masalah pribadi.
Dinamika Kegiatan
Program demi program berjalan: penyuluhan bahaya rokok, lem, alkohol; pelatihan editing; pembenahan administrasi desa digital; jalan sehat; turnamen futsal; senam bersama; gebyar kreativitas anak muslim. Ada konflik, ada selisih paham, bahkan hampir terjadi pertengkaran antar pemuda saat turnamen futsal. Namun semua bisa diselesaikan, dan kegiatan ditutup resmi oleh Sekretaris Desa, Bapak Hamdi.
Ada pula momen lucu: motor posko yang diparkir dengan kunci stang justru rusak dan tak bisa dibuka. Motor harus diangkut ke Rimbo Bujang untuk diperbaiki. Anehnya, kejadian itu terulang lagi menjelang malam perpisahan. Untung kali ini Kepala Desa sudah tahu cara membukanya.
Malam Perpisahan
Posko 45 menggelar Tsyakuran dengan mengundang masyarakat. Tak terduga, rumah penuh sesak dari teras depan hingga dapur. Konsep acara sederhana: yasin tahlil, doa bersama, pesan dan kesan dari aparatur desa, masyarakat, dan mahasiswa. Tangisan pecah, baik dari kawan posko maupun warga. Ikatan emosional terasa begitu kuat.
Hari Terakhir
Kamis, 14 Agustus 2023. Hari terakhir di Desa Tanjung Aur. Kami berkunjung ke kantor desa dan pondok pesantren untuk menyerahkan cenderamata. Air mata kembali jatuh. Nyai dan Datuk menangis melihat kami mengangkat barang keluar rumah. Mereka sudah menjadi orangtua kami selama 40 hari, memberi nasihat, buah dari kebun, dan kasih sayang yang tulus.
Masyarakat, pemuda, dan anak-anak berdatangan ke posko menunggu bus. Nostalgia awal kedatangan terasa kembali. Ikatan keluarga besar sudah terbentuk, namun harus dipisahkan oleh roda bus yang datang menjemput. Tangisan pecah, pelukan erat, salam perpisahan mengiringi langkah kami masuk ke dalam bus.
Penutup
KKN bukan sekadar program kerja atau laporan akhir. KKN adalah perjalanan menemukan diri, belajar memahami orang lain, menerima perbedaan, dan tumbuh bersama. Desa Tanjung Aur mengajarkan arti kebersamaan, arti keluarga, dan arti pengabdian.
Tangisan hari terakhir bukan tanda kelemahan, melainkan bukti cinta. Ikatan itu tidak akan pernah putus, hanya memanjang, menunggu waktu untuk bertemu kembali.

0 Komentar