RUANGKU, KESUNYIANKU
Perjalanan ini bukan sekadar langkah kaki, tapi pencarian akan ruang yang bisa menampung gelisahku. Aku, Nina, perempuan pencinta kopi dan warna-warna lembut seperti cream, sedang menyusuri jalanan kota dengan langkah pelan. Tak ada tujuan pasti, hanya dorongan hati yang ingin menemukan tempat untuk diam, merenung, dan mungkin... menyembuhkan.
Pandangan mataku menyapu setiap bangunan yang kulewati. Di antara deretan toko dan kantor, sebuah coffee shop kecil dengan jendela besar dan lampu gantung hangat menarik perhatianku. Tanpa pikir panjang, aku masuk. Aroma kopi menyambut seperti pelukan lama yang kurindukan.
Aku memilih duduk di pojok ruangan, dekat jendela. Dari sana, aku bisa melihat lalu-lalang orang di luar dan aktivitas pengunjung di dalam. Beberapa orang tertawa pelan, yang lain tenggelam dalam layar laptop mereka. Di tengah keramaian itu, aku merasa sunyi. Bukan karena sepi, tapi karena hatiku sedang penuh tanya.
"Apakah yang aku lakukan saat ini akan mendukung masa depanku? Ataukah justru menghancurkannya?" pikirku. Pertanyaan itu terus berputar, seperti lagu yang tak kunjung selesai.
Aku membuka buku catatan kecil yang selalu kubawa. Di sana, tertulis daftar mimpi-mimpi yang dulu kutulis dengan semangat, menjadi penulis, membuka perpustakaan kecil di kampung halaman, mengajar anak-anak membaca. Tapi kini, semua terasa jauh. Aku terjebak dalam rutinitas yang tak kupahami lagi tujuannya.
Tiba-tiba, seorang perempuan paruh baya duduk di meja sebelah. Ia tersenyum padaku, lalu membuka buku dan mulai menulis. Aku tak bisa menahan rasa penasaran.
“Menulis juga, Bu?” tanyaku pelan.
“Iya,” jawabnya ramah. “Menulis itu seperti berbicara pada diri sendiri. Kadang kita butuh mendengar suara hati kita sendiri, bukan?”
Aku mengangguk. Kata-katanya menamparku lembut. Mungkin itu yang selama ini hilang, aku terlalu sibuk mendengar suara orang lain, hingga lupa mendengarkan diriku sendiri.
Kami mengobrol sebentar. Ia bercerita bahwa ia dulu juga pernah merasa tersesat, kehilangan arah. Tapi menulis membantunya menemukan kembali dirinya. “Kadang, ruang paling tenang itu bukan tempat, tapi keberanian untuk duduk bersama diri sendiri,” katanya sebelum pamit.
Aku menatap kembali buku catatanku. Perlahan, kugoreskan pena. Bukan untuk menjawab semua pertanyaan, tapi untuk mulai berdamai dengan ketidakpastian. Aku menulis tentang rasa takutku, tentang harapan yang belum padam, tentang langkah kecil yang ingin kuambil esok hari.
Di luar, langit mulai gelap. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Tapi di dalam coffee shop itu, aku menemukan cahaya kecil dalam diriku sendiri.
Hari itu, aku tak menemukan jawaban. Tapi aku menemukan ruang. Ruangku. Kesunyianku. Dan mungkin, itu sudah cukup untuk hari ini.
0 Komentar