Ironi MBG: Anak Kota Kenyang, Anak Pelosok Terabaikan
Menelusuri jejak program unggulan Presiden Republik
Indonesia, Makan Bergizi Gratis (MBG), semakin jelas bahwa program ini
penuh kontroversi. Alih-alih menjadi solusi pemerataan gizi, MBG justru
menimbulkan masalah serius berupa keracunan massal. Data yang dikurasi oleh Center
of Economic and Law Studies (CELIOS) dari berbagai media massa menunjukkan
hingga 15 November 2025 terdapat sekitar 15.117 kasus keracunan yang
tersebar di berbagai daerah. Tren ini terus berlanjut hingga 2026. Ketua Umum
FSGI, Fahriza Marta Tanjung, mencatat pada Februari 2026 korban mencapai 1.920
orang, turun dari Januari yang mencapai 2.835 orang, tetapi total
dua bulan pertama sudah 4.755 korban. Artinya, rata-rata setiap bulan
ada lebih dari 2.300 siswa yang menjadi korban. Angka ini bukan sekadar
insiden, melainkan bukti kegagalan sistemik.
Provinsi Jambi menjadi salah satu daerah yang paling
terdampak. Pada Januari 2026, sekitar 110 siswa dari TK hingga SMA di
Kecamatan Sekernan dan Sengeti, Kabupaten Muaro Jambi harus dirawat akibat
keracunan. Kasus terbaru terjadi pada 9 April 2026, ketika tiga guru SMP
Negeri 7 Kota Jambi dilarikan ke rumah sakit setelah mencicipi menu MBG.
Fakta ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan standar higienis dapur penyedia.
Lebih ironis lagi, distribusi MBG justru lebih banyak menyasar sekolah-sekolah
di perkotaan, sementara anak-anak di pelosok, khususnya di Kabupaten Tanjung
Jabung Timur sebagai wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) yang
paling membutuhkan, justru belum tersentuh secara merata.
Jika ditelusuri, perjalanan MBG memperlihatkan pola kegagalan
yang konsisten:
- 2025
(awal program):
puluhan kasus mulai muncul.
- 2025
(pertengahan):
ribuan kasus tercatat.
- 2025
(akhir):
mencapai ±16.000 kasus.
- 2026
(awal–ongoing):
kasus terus bertambah, dengan insiden besar per kejadian.
Tren ini menegaskan bahwa MBG bukan hanya gagal dalam
memberikan gizi, tetapi juga gagal dalam menyasar target yang seharusnya.
Program yang semestinya menjadi solusi pemerataan justru memperlebar jurang
ketidakadilan.
Kontroversi semakin mencuat ketika muncul pengadaan 21.801
unit motor listrik untuk SPPG. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa,
bahkan mengaku sempat menolak pengadaan tersebut karena tidak sesuai prioritas.
Hal ini memperkuat kesan bahwa MBG telah keluar dari koridornya, dari pelayanan
gizi bergeser menjadi proyek pengadaan yang tidak relevan dengan kebutuhan
mendesak anak-anak di sekolah.
Presiden Prabowo Subianto harus segera melakukan evaluasi
skala besar terhadap MBG. Program ini bukan hanya soal distribusi makanan,
tetapi juga soal integritas penggunaan anggaran rakyat. Perbaikan
menyeluruh harus dilakukan, mulai dari pengawasan dapur, distribusi ke daerah
pelosok, hingga transparansi anggaran. Tanpa langkah konkret, MBG akan
kehilangan legitimasi sebagai program unggulan dan hanya meninggalkan catatan
kegagalan.
Pada akhirnya, MBG seharusnya menjadi instrumen pemerataan
gizi, terutama bagi anak-anak di pelosok dan wilayah 3T. Namun, fakta di
lapangan menunjukkan sebaliknya, keracunan massal, distribusi timpang, dan
pengadaan kontroversial. Jika tidak segera dievaluasi, MBG akan tercatat
sebagai program yang gagal memenuhi janji, sekaligus memperlebar jurang
ketidakadilan.

0 Komentar